Petani Masih Kebingungan
Program Adaptasi Perubahan Iklim Tidak Jelas
Jakarta, KOMPAS
Kegagalan panen akibat banjir dan serangan hama kian sering terjadi dan petanipunsemakin bingung menyikapinya. Padahal mereka memahami bahwa penyebabnya adalah anomali cuaca dan perubahan iklim. Sementara sosialaisasi pemerintah agar petani mampu beradaptasi untuk mengurangi resiko diakui belum signifikan.
Program pemerintah terkait perubahan iklim justru dititikberatkan pada program mitigasi yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tebalnya lapisan gas rumah kaca diatmosfir telah menyebabkan pemanasan global, sementara perubahan iklim terjadi akibat pemanasan global.
Bencana yang menimpa pertanian tersebut mengakibatkan turunnya produksi dan melonjaknya harga akibat spekulasi. Namun, lonjakan harga itu tidak berbanding lurus ddengan pendapatan petani yang jsutru menurun, bahkan ada yang menderita kerugian total. Secara nasional kondisi itu berpotensi mengancam ketersesiaan pangan.
Perubahan iklim juga berpotensi di bidang kelautan dan kesehatan serta menyebabkan perubahan geografis akibat kenaikan muka air laut dan proses penggurunan akibat kekeringan panjang.
Daerah Tidak Siap
Ketika suatu wilayah terserang bencana gagal panen akibat anomali cuaca, pemerintah setempat ternyata belum siap. Petani mengandalkan kebijakan dari pemerintah provinsi. “Harus dihasilkan varietas tanaman yang mampu beradaptasi terhadap kekeringan dan genangan tinggi akibat perubahan iklim,” kata Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat Entang Sasraatmaja, Minggu (18/7) di Bandung.
Dia mengatakan perubahan iklim yang kain sulit diprediksi seharusnya sudah diantisipasi pemerintah sejak lama. Upaya yang dapat dilakukan antara lain menghasilkan varietas unggul dengan produktifitas tinggi. Selain itu, pemerintah provinsi juga harus mulai memikirkan teknik budidaya dan strategi tanam baru yang dapat melindungi dan menghindarkan tanaman dari kondisi iklim ekstrem. Rekayasa pelindung tanaman dengan bahan baku lokal dan murah perlu dikembangkan.
Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar Endang Suhendar. Menurut dia, rata-rata komulatif lahan yang puso akibat serangan organisme pegganggu tanaman lima musim kemarau terakhir seluas 621 hektas. “Badan Pusat Statistik meramalkan produksi padi Jabar 2010 mencapai 10,93 juta ton, turn 3,1 persen dibanding realisasi than lalu 11,28 juta ton. Salah satu alasanya adalah berkurangnya luas panen dan serangan hama akibat anomali cuaca,” kata Endang.
Dari Indramayu Jawa Barat dilaporkan, tanaman cabai merah, bawang merah, tomat dan kentang banyak yang gagal panen karena serangan hama. Ketua HKTI Kabupaten Bandung Hans sambas mengatakan, “Tikus dan Wereng suka tinggal didaerah lembab. Dengan hujan yang tak kunjung henti, jenis hama tanaman itu merajalela”.
Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional benny A Kusbini di Indramayu mengatakan, tingkat kegagalan panen petani sayur beragam, 30-100%. Ia menegaskan hampir semua petani sayur di Jawa gagal panen karena hujan terus.
Utamakan Mitigasi
Menanggapi dampak negatif pada pertanian disejumlah daerah itu dibutuhkan program adaptasi. Sementara itu, Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Agus Purnomo di Jakarta menyatakan, pembaruan rencana aksi adaptasi tersendat lantaran Indonesia mengedepankan rencana rencana aksi mitigasi perubahan iklim yang berorientasi terhadap upaya penurunan emisi gas rumah kaca, bukan mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim.
Menurut Agus, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) telah menyusun sejumlah rencana adaptasi perubahan ilim diberbagai bidang, melaui penyusunan dencana aksi nasional (RAN) dalam menghadapi perubahan iklim. ”Itu disusun pada tahun 2007. seharusnya diperbaharui karena pada saat penyusunan banyak yang belum kita tahu dan banyak keputusan baru yang akan mempengaruhi.” kata Agus.
Menurut dia, dunia internasional memang lebih memperhatikan upaya mitigasi karena tidak ingin perubahan iklim semakin memburuk. Mitigasi juga lebih diutamakan karena presiden Susilo Bambang Yudoyono pada September 2009 berkomitmen sukarela, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi 26 persen dari kondisi normal tahun 2020.
Karena kalah bergaung dibanding mitigasi, pendanaan internasional untuk adaptasipun sangat sedikit. ”Sementara, tidak ada cukup perhatian di dalam negeri karena belum dianggap serius,” kata Agus.
Pernyataan itu dikuatkan oleh Ketua Umum Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) Rizaldi Boer yang sering berdialog dengan masyarakat daerah. ”Pemahaman daerah akhirnya mengarah ke mitigasi, karena trend nya demikian. Rupanya tidak ada informasi yang cukup tentang apa itu adaptasi sehingga daerah tidak paham.”
Pada Desember 2009, DNPI dan KLH menyelesaikan penyusunan Informasi Tematik Antisipasi Perubahan Iklim terhadap Isu Prioritas Nasional Bidang Pangan, Kesehatan dan Fenomena Iklim Ekstrem.
Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan KLH Masnellyarti Hilman mengakui, dokumen RAN yang disusun pada tahun 2007 tidak cukup merinci langkah adaptasi di lapangan. ”Dokumen itu bersifat umum dan nasional, dan harus diterjemahkan menjadi kajian resiko dan adaptasi perubahan iklim ditingkat lokal,”kata Masnellyarti Hilman di Jakarta, Jumat.
Rizaldi sepakat,”Basis kerja adaptasi ada di daerah. Caranya, diantaranya dengan penguatan pelembagaan dilevel lokal yang berbicara tentang proses pemanfaatan informasi iklim sampai ke tataran operasional. Kalender tanam sudah ada hingga tingkat kecamatan, namun tidak operasional di tingkat lapangan. Agar dapat di operasionalkan perlu sekolah lapangan. Namun, sumber daya yang dapat membuat modul-modul untuk itu amat minim.”
Padahal, persoalan setiap daerah berbeda, pola iklimnyapun berbeda. ”Harus diatur secara jelas, siapa melakukan apa, dan harus jelas prosedur standar operasionalnya,” katanya.