Iklim dan Pembangunan
REDD dan Perubahan Iklim :
Kegagalan Pasar dengan Solusi Pasar [1]
Oleh : Rivani Noor [2]
Abtraksi (topik dan maksud)
Paparan tulisan ini akan mengurai singkat siklus historis problematika perubahan iklim yang berakar pada kerakusan sistem industrialisasi negara-negara maju akan sumber-sumber bahan mentah dan hayati. Ketika kerakusan model industri global ini menggelinding menjadi bencana global ; panas bumi meningkat, perubahan cuaca ekstrim, kekacauan kalender tanam yang berakibat pada kerawanan pangan global dan peningkatan dampak bencana, para pemimpin global mencoba membangun respon untuk mengatasi “horor global” yang, ibarat malaikat maut, dampaknya tak mengenal status, batas wilayah bahkan kelakuan religius seseorang. Bank Dunia adalah salah satu lembaga internasional yang sudah terlibat lama dalam inisiatif global dalam isu perubahan iklim, sejak UNFCCC di tahun 1992 menghasilkan Konferensi Rio, Bank Dunia telah meng-operasionalkan beragam skema yang mentautkan isu perubahan iklim (reduksi emisi) – pembangunan berkelanjutan – eksistensi pasar. Bank Dunia percaya bahwa kebijakan privatisasi dan liberalisasi adalah manifestasi manjur dari komitmen global untuk menghindari kerusakan bumi akibat praktek rakus industri. Dalam kenyataannya, mantera mujarab yang dikerangka dalam mekanisme Pasar ini justru terbukti gagal, bahkan, bisa dikatakan menjadi lingkar-setan bencana iklim. Peng-arus-utamaan pengalaman kolektif komunitas terhadap kerentanan yang disistematisasi menjadi kewaspadaan dini komunitas atas rencana pembangunan dan modal menjadi bagian penting dalam upaya menyelamatkan kehidupan warga.
[1] Ditulis untuk Lokakarya Penulisan “ Pengarusutamaan Hikmah Pembelajaran Kegiatan Kesiapan REDD Samdhana di Indonesia”, The Samdhana Institute dan WG Tenure, Bogor, 2-4 Agustus 2010.
[2] Direktur CAPPA
Rentetan Bencana Itu Datang Bertubi-Tubi
“Dimanakah Letak Kesalahanya?”
Oleh: Paryanto dan Umi Syamsiatun
Dalam kurun dua bulan terakhir ini setidaknya terjadi tiga kali terjadi Bencana banjir Bandang di propinsi Jambi yaitu di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun dan beberapa Kecamatan di Kerinci. Banjir kali ini tidak hanya merendam pemukiman penduduk tetapi juga merendam areal persawahan warga, Jalan dan fasilitas umum lainnya. Sehingga mengakibatkan kerugian yang sangat besar baik secara material maupun non material. Di kecamatan Batang Asai Banjir menghanyutkan sebuah mobil pic up dan 10 ton karet, di kerinci bencana banjir bandang yang terjadi pada 31 mei dan 11 juli 2010 menyebabkan ratusan sawah yang baru ditanam terendam. Di perkirakan kerugian mencapai Ratusan juta Rupiah.
Isu Perubahan Iklim antara “Peluang” dan “Ancaman”
(catatan semester pertama tahun 2010 : Mengatasi Masalah dengan Masalah)
Oleh : Umi Syamsiatun
Perubahan iklim akibat dari pemanasan global telah menjadi isu yang mendunia karena dampaknya semakin nyata dan semakin akut. Rentetan bencana (cuaca ekstrim, angin kencang, musim tak menentu, gagal panen, penyakit, dll) bertubi-tubi menghantam setiap sisi belahan bumi melalui berbagai model yang disinyalir kuat disebabkan oleh reaksi pemanasan global
Wawancara Eksklusif :”Ancaman Perubahan Iklim Terhadap Ketahanan Pangan Lokal”
Isu perubahan iklim menjadi isu yang paling hangat belakangan ini. Entah karena dampaknya yang semakin nyata dan semakin mengancam ataukah karena pengaruh dari politik dan kepentingan global terhadap pasar dan keberlangsungan produksi negara maju. Yang jelas dampak apapun yang dilakukan oleh manusia di muka bumi ini perubahan iklim tetap akan terjadi sebagai dampak aktifitas manusia di muka bumi. Sektor yang paling nyata menerima ancaman terberat dari perubahan iklim salah satunya adalah sektor pertanian, di sisi lain sektor pertanian dituntut harus mampu memenuhi kertersediaan pangan tapi disisi lain ancaman yang dihadapi terlampau besar. Berikut adalah hasil wawancara eksklusif antara Moderator CAPPA dengan Yayasan SETARA Jambi.
Pembelajaran Dari Kearifan Lokal ”Hutan adalah Nadi Kehidupan”
Masyarakat Desa Berkun, Kabupaten Sarolangun
Oleh : Paryanto
Kesadaran betapa pentingnya hutan untuk keberlansungan kehidupan dimuka bumi ini telah lama tumbuh dalam diri masyarakat marga Bukit Bulan khususnya masyarakat Desa Berkun. Jauh sebelum hukum positif mengatur tentang pengelolaan kawasan hutan dan membaginya dalam beragam tata guna kawasan hutan, masyarakat Berkun yang hidup disekitar kawasan hutan telah lama mengatur pengelolaan kawasan hutan berdasarkan tatanan adat mereka dengan mempertimbangkan “penataan ruangnya” berdasarkan fungsi-fungsi secara ekologis, ekonomi dan social budaya mereka. Jika pemerintah mengatakan bahwa ada kawasan hutan lindung, taman nasional, taman hutan raya, masyarakat di desa ini sejak dahulu telah menerapkannya dalam model pengelolaan “Rimbo Larangan” yang diatur dengan aturan-aturan adat yang disepakati bersama. Ketika pemerintah memperkenalkan model kawasan hutan produksi dan produksi terbatas, sejak dahulu masyarakat di sini telah menerapkannya melalui model “Hutan Adat”. Pada saat pemerintah sibuk dengan penyusunan tata ruang, masyarakat Berkun telah memiliki tata ruang sejak lama dengan komposisi 300 ha, Persawahan 200 ha, Perkebunan Karet Rakyat 1000 ha, Kebun Durian dan Lainnya 58 ha, Hutan Alam 53.324 ha, Rimbo Larangan 19 ha dan Hutan Adat 94 ha.
Cerita Dari Desa Pulau Tengah
Oleh: Umi Syamsiatun
Berjarak lebih kurang ± 107 km dari simpang Pulau Rengas Bangko, dengan menempuh perjalanan darat dengan kondisi jalan terjal dan berlubang selama 7 jam maka kita akan sampai di sebuah desa dengan suhu udara yang cukup dingin (22oC). Inilah desa Pulau Tengah yang secara administratif berada di kecamatan Jangkat Kabapten Merangin. Desa ini secara langsung berbatasan dengan Taman nasional kerinci Sebelat yang merupakan habitat hidup hewan-hewan langka yang menjadi ciri khas Pulau Smatera seperti Gajah Sumatera dan harimau Sumatera.
Terakhir Diupdate (Senin, 09 Agustus 2010 09:57)
Iklim & Pembangunan

